Fatihmedianusantara.com Makassar Sulsel, – Komandan Batalyon Infanteri 700/Wira Yudha Sakti, Letkol Iwan Solaria, secara resmi menggelar konferensi pers untuk mengklarifikasi beredarnya video viral di media sosial yang menuding adanya keterlibatan oknum prajurit TNI dalam insiden kerusuhan di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) pada 24 April 2026.
Dalam pernyataannya, Letkol Iwan menegaskan bahwa individu yang terekam dalam video tersebut bukan merupakan anggota TNI, khususnya dari satuan Yonif 700/Wira Yudha Sakti di bawah jajaran Kodam XIV/Hasanuddin.
“Perlu kami luruskan secara objektif dan bertanggung jawab, bahwa yang bersangkutan bukan bagian dari institusi kami. Klarifikasi ini penting untuk menjaga integritas dan kredibilitas TNI di tengah ruang publik yang rentan terhadap disinformasi,” Tegasnya. Sabtu, 25 April 2026 Makassar.
Lebih lanjut, pihaknya menghadirkan langsung individu yang dimaksud, yakni Saudara Suhaib, di kediamannya dengan didampingi oleh kedua orang tuanya, guna memberikan penjelasan terbuka terkait kronologi kejadian.
Dalam keterangannya, Suaib menjelaskan bahwa pada malam kejadian dirinya awalnya menuju Mal Nipah untuk menghadiri sebuah konser. Namun, setelah tiba di lokasi, ia melihat adanya kerumunan massa di sekitar area kampus UMI dan memutuskan untuk mendekat ke lokasi tersebut.
“Saya hanya ingin melihat situasi. Saat berada tidak jauh dari gerbang kampus, saya langsung didatangi oleh petugas Resmob dan dimintai identitas,” Ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun telah menunjukkan identitas diri, dirinya justru mengalami tekanan untuk mengakui sebagai anggota TNI, yang secara tegas ia bantah.
“Terkait pakaian yang saya gunakan, itu saya beli secara daring di Shopee dengan harga sekitar Rp113.000. Itu murni karena kecintaan saya terhadap TNI Angkatan Darat, bukan karena saya bagian dari institusi tersebut,” Jelasnya.
Suaib juga menegaskan statusnya sebagai warga sipil yang bekerja sebagai petugas keamanan (security) di salah satu kawasan perumahan.
Klarifikasi ini menjadi penting di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap kali tidak terverifikasi, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik serta mencederai nama baik institusi negara.
Pihak TNI mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, serta mengedepankan prinsip verifikasi sebelum menarik kesimpulan.(*411U).
Laporan : Tim Sorot Sulsel

















